My 28 Years Old

Thanks God my age getting old today! 28 tahun didunia sebagai sebaik baiknya pribadi, berusaha hidup lurus sesuai jalan Tuhan dan gak neko neko. Such as gratitude aku menulis blog again setelah berapa tahun tidak ada soul untuk berbagi cerita. Namun hari ini, sebagai pertanda bahwa aku masih ada disini, didunia ini, alangkah indahnya aku membagikan sedikit kebahagiaan dan semoga menularkan happines juga untuk orang yg membaca. 
Usia 28 tahun 2019 aku bersyukur. Sangat bersyukur dengan apa yg ada di sekelilingku. Suami, anak, kakak adik dan Mama yg selalu ada buatku. Yang selalu melimpahkan perhatiannya untukku. Apalah arti seseorang jika tidak ada yg memperhatikan didunia ini. And i was so thankful with it. 
Sekarang adalah bagaimana perasaanku? Aku tumbuh menjadi orang yg sederhana, dan keadaan sekarang lebih lebih membuatku berpikir sederhana. 
Aku seorang ibu yg selalu ada untuk anakku, walau tak berpenghasilan.
Aku seorang ibu yg mendukung kegiatan anakku, walau aku sendiri tidak produktif
Aku seorang ibu yg berusaha mengupgrade ilmu parenting, mengikuti seminar ini itu, walau aku belum berkesempatan upgrade ilmu sesuai profesiku dulu.
Aku tidak ingin lebih pintar dari anakku ketika dia sudah besar nanti, justru dia harus lebih dan lebih pintar dari kedua orang tuanya.
Aku seorang ibu yg tidak ingin terlihat susah, dan menunjukkan tangis didepan anaknya, demi agar anakku sepanjang hidup denganku hanya melihat kebahagiaan. Dia harus melihat sesuatu yg baik saja. ketika bersamaku. agar kelak ketika sudah dewasa nanti, ketika dia melihat keburukan dunia, dia mencariku, tempat dimana dia harus pulang.
Aku seorang ibu yg tidak setiap minggu ke Gereja, tapi aku mulai memgenalkan dia kepada ciptaannya. Tidak pernah memberikan sesuatu yg berlebihan tentang agamawi, karna aku sadar kita hidup berdampingan dengan perbedaan. Yg pasti tanamkan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. 

Ini bukan tentang anakku sudah menjadi apa dan sudah mencapai apa. Tp ini tentangku yang akhirnya menemukan zona ternyamanku saat ini. Zona nyaman bisa bertahan bertahun2, bahkan selamanya. Sejak tahun 2016 menikah, ketika itu pula aku melepaskan zona nyamanku. Aku harus bertarung dengan diri sendiri sebelum akhirnya memutuskan sesuatu yg besar. Aku mencoba menikmati hidupku yg fana dengan menutupi bahwa aku harus memilih apa yg aku inginkan. Tahun ini, 1 tahun lebih aku dan suami hanya bertemu saat weekend, karena kami memutuskan membeli rumah di Semarang, kota ternyamanku. Namun kami masih harus berjuang. Sumber rejeki kami ada di Jakarta. 1 tahun terlewati. 1 tahun yg berat. Dan akupun entah merasa tidak percaya diri akan berkata kami bertahan, kami bahagia seperti ini, kami menikmati perjalanan kami. Bohong. Aku tidak akan mengatakan hal itu. Aku hanya akan berkata, ketika kami berdua berkomitmen dalam suatu hal, kami akan melakukan dengan sebaik baiknya. Dan percaya pertolongan Tuhan yg memampukan kami. Akupun tidak mampu terus begini. Tp ini keputusanku, yg akhirnya jadi keputusan berdua. Apa iya ketika seseorang mengambil resiko demi membelamu, km lantas berbalik meninggalkannya? Ya seperti itulah perasaanku kepada suamiku. Dia rela bekerja keras demi impianku membesarkan anak di semarang, masa iya aku minta balik Jakarta dengan alasan rindu? dengan alasan takut sendiri? Bukan, itu bukan Bita. Bita daridulu tidak pernah takut apapun. Dan berusaha tidak bergantung pada siapapun. Namun kini aku seorang ibu 1 anak yg hidupnya bergantung sepenuhnya kepada suami. Bagaimana ya perasaannya? Lega. Akhirnya aku punya orang yg bisa kuandalkan. Dan aku berharap akupun bisa jadi orang yg diandalkannya. Big wishes banget itu. Jangan terlena dengan kemudahan yg ada sekarang. Teruslah melangkah maju tanpa menyingkirkan siapapun.

Harapan besar untukku sendiri, aku tidak menyesali satupun ttg apa yg kuputuskan. Aku tidak menjadi rendah diri hanya karena tidak bekerja lagi. Turunkan ego ketika meminta apapun ke suami, sadarilah itu adalah kewajibannya kepadamu! Sudah sewajibnya suami menanggung hidupmu karena telah mengambilmu sebagai Isteri. Kamu tidak perlu sama sekali menangisi keadaanmu. Karena selama ini begitu. Kamu harus mencari solusi saat mulai kekurangan. Tapi kekurangan pun bukan alasan. Bahkan kamu tidak takut mati. Kamu hanya takut meninggalkan anak dan suamimu. Tapi wanita bijak tidak sepicik itu,bukan? Kamu terlahir tidak untuk merepotkan orang lain. Jadiii, sebisa mungkin kelola dengan baik.. Pikiran, emosi, Kesehatan, dan Keuangan. Aku adalah pengelola yang baik. Aku bisa samgat rajin tapi juga bisa sangat malas. But i love my self. 
Daripada bersedih karena tidak berpenghasilan, cari solusi untuk melakukan something yang menghasilkan, tanpa modal tentunya. Tp i know its hard to start. Jika sudah sangat mentok, berhemat adalah koentji. Hanya itu yg bisa kamu lakukan. Baik ibu ibu dan bapak bapak, ini harapan sederhanaku. Mengelola emosi jaman sekarang bisa jadi sangat sulit. Psikiater mulai rame konsultasi. Semoga kita dijauhkan dalam kelompok orang yg sakit mentalnya. Oh ya, harapan untuk mulai hidup sehat juga. Mulai olahraga jika memungkinkan karena masih ada Balita. Bisa zumba tanpa instruktur dirumah atau ikut kegiatan positif lainnya yang tidak membebani hidup kita.
Intinya aku sunggu berbahagia dan bersyukur dengan hidupku sekarang, namun aku tidak boleh mudaj berpuas diri. Semua orang punya potensi yang mampu dikembangkan dan aku percaya setiap kita layak untuk dicintai. As simple memberikan pujian dan mengerti bahasa cinta masing2 pasangam agar kamu juga dipenuhi cinta.


Sekian cerita harapanku. Aku yg berbahagia di 28 tahun ini.
Mama Bita:Mama Arsa:Mbak bita:Dek bita:Bu Raditya:Tante Bita:Aunty Bibit

Komentar

Postingan Populer