Kepada Suamiku yang Terhormat

Jika suatu saat aku mendapat popularitas seperti seorang publik figure paling tidak aku pernah merasa jadi orang yang sangat biasa saja,atau tidak punya pengaruh di bidang apapun. Aku selalu menghargai orang orang yg punya pengaruh besar dihidupku. Dulu, sebelum menikah aku sangat mengidolakan ayahku (bahkan sampai beliau tidak ada pun akan selalu jadi idolaku nomor satu) dan mau tak mau akupun bersyukur menjadi anak ibuku,dengan segala perlakuan baik-buruk ibuku terhadapku, aku tetap merasa menjadi anak yg berharga dimata orang tuaku. Mengapa aku merasa berharga? Pernahkah aku merasa kecewa dengan orang tuaku? 
Seseorang merasa berharga karena dihargai. Tapi ada juga orang yg merasa tidak berharga walaupun dia juga sebenarnya dihargai. Berarti yang salah adalah perlakuan kita terhadapnya. Menurutku, ketika saat ini aku sudah merasakan menjadi ibu, tidak ada kasih manusia yang sempurna seperti kasih ibu terhadap anaknya, pun kasih sayang suami kepada istri tidak bisa merebut peringkat ini. Suami dan istri adalah orang asing yang tidak ada ikatan darah, namun anakku, mengalir dalam darahku, separuh dari jiwaku dan dia bayangan atas nyawaku seperti lagu Andien dalam judul "Biru" . Sungguh ungkapan ini menjelaskan segalanya bahwa sebagai istri atau sebagai suami jangan selalu mengharap bahwa kamu akan menjadi nomor satu ketika sudah menyatu. Selagi orangtua kita masih ada, kita akan selalu menomorsatukan mereka. Benar kan? Saya bilang jangan "selalu" mengharap, karena kadang-kadang kita juga bakal menjadi nomor satu kok bagi pasangan kita. Terlebih buatku, dari awal aku memutuskan untuk menyerahkan hidupku kepada orang lain dan lepas dari orangtuaku, aku berjanji pada diriku bahwa aku akan menjadi istri yang menghormati suami, tidak pernah mengkhianati suami dengan kebohongan sekecil apapun, setia kepadanya apapun yang terjadi, dan tidak pernah membicarakan keburukannya dihadapan siapapun, aku bahkan sering melakukan hal ini: membela dengan caraku ketika ada orang yang berusaha menjelekannya. Aku tidak pernah berjanji akan selalu berucap manis karena sering marah, menjadi pendengar yang baik karena selalu menuntut, memasak setiap hari karena kelelahan, dan berpenampilan menarik karena memang tidak kau belikan make up. Aku tidak pernah berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu, jadi maafkanlah istrimu ini ketika kelemahanku setiap hari semakin menjadi makanan sehari-harimu. 

Teruntuk suamiku dan seluruh suami didunia, pada dasarnya manusia diciptakan unik satu sama lain. Tidak ada manusia yang memiliki kemampuan sama persis bahkan anak kembarpun. Kita orang-orang yg sudah menikah apalagi kita sebagai orang beriman, harus menjunjung tinggi janji suci yang terucap dalam pernikahan. Mudah memang untuk setia dan mempertahankan hubungan, tapi mengobarkan kembali cinta yang hadir seperti saat aku belum menjadi milikmu? Ah, rasanya kau pun sudah lupa bagaimana ketika kau begitu mendambakanku, mengidolakanku, dan begitu menganggapku segalanya. Apakah itu artinya cinta kita memudar? Bagiku tentu tidak, aku bahkan merasa cintaku kepadamu begitu kuat karena aku BERSYUKUR. Aku hanya perlu bersyukur dengan segala hal yang terjadi. Banyak wanita yang menyesal menikah terlalu cepat sebelum ia memiliki karir yang baik atau studi yang tinggi. Banyak wanita yang menyesal memiliki anak terlalu cepat ketika ia sedang bersinar dan sedang produktif-produktifnya dikantor. Ia merasa kehilangan hidupnya demi "orang lain" yang kau bilang suami itu. Tapi, hei! Jika kalian merasakan hal itu, aku yakin kamu salah mengambil keputusan. Atau, bahkan kamu menikah dengan orang yg salah. 
Ya, memang manusiawi merasakan hal-hal itu, aku bukan tidak pernah merasakan hal itu. Tapi aku berusaha TIDAK mengijinkan pikiran dan hatiku berlari ke situasi penyesalan itu. Tidak ada dalam kamusku untuk menyesal, atau merasa down, atau merasa tidak berharga. Karena, aku masih hidup! Hidup saja menurutku adalah suatu anugerah karena aku pernah merasa akan mati ketika menghadapi proses persalinan. Dan proses ini benar-benar mengubah hidupku, pandanganku, serta keyakinanku.
Bahwa suami harus TAU apa yg dirasakan istrinya ketika berjuang melahirkan anak yang bahkan memakai nama belakangmu. 
Hai suami, pernahkah kamu berpikir bahwa kamu telah mengambil kehidupan seorang wanita yang sedang ia nikmati? Dia mengganti namanya, dia meninggalkan rumahnya dan hidup denganmu, dia mengandung dan melahirkan anakmu, persalinan membuat dirinya lebih lemah, hampir menyerah ditengah proses persalinan karena menahan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan, walaupun akhirnya sang anak hanya menggunakan namamu di nama belakangnya. Dia merelakan aktifitasnya sebagai wanita bekerja ketika memutuskan berhenti dan full dirumah. Apa kau masih begitu tega menganggap istrimu itu tidak berguna? Atau membuatnya merasa begitu, mungkin.

Aku tidak mengerti apa yang salah dengan kondisi kita. Beberapa hal yang tidak bisa terungkap secara lisan mungkin bisa tersampaikan lewat tulisan. Coba pikirkan hal ini:

1. Jangan menyesal dengan pilihanmu jauh dari keluarga kecilmu, karena kamu lebih memilih mementingkan perasaan orang lain dibanding istrimu
2. Jangan pernah membandingkan istrimu dengan wanita manapun termasuk ibumu, karena kami berbeda. Yang pasti, aku tidak pernah tega dan dengan sengaja membohongimu.
3. Aku bisa tidak pernah kekurangan uang bahkan ketika kamu tidak menafkahiku secara rutin
4. Aku adalah seorang ibu, pasti memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dont judge me.
5. Aku bercita-cita supaya suamiku mau memakai cincin pernikahannya setiap hari, tanpa ada ancaman akan hilang. 
6. Aku masih punya kemampuan untuk bekerja, kamu harus mendukung ini. Bukan karena uang, tetapi lebih dari itu. Ini masalah eksistensi diri dan pekerjaan yang akan membuat otakku tetap aktif berpikir.
7. Aku butuh berlibur.
8. Aku butuh kamu, yang dulu sangat mengagumiku. 

Banyak hal yang semakin menjelaskan bahwa kita punya pandangan berbeda tentang parenting. Mungkin kamu harus lebih banyak membaca buku tentang pola pengasuhan anak. Bagaimana tidak melulu menekan resiko yang sangat kau takutkan bahkan belum terjadi. Tapi, belajar mencari solusi ketika ada masalah muncul dalam diri anak kita. 
Ke luar kota naik kereta, naik motor, mandi air dingin, nonton bioskop bersama bayi adalah hal-hal yang akan kulakukan pada arsa, dengan atau tanpa ijinmu. 

Terakhir, aku sangat mencintaimu. Aku menulis ini bukan karena aku marah atau sedih dan terpuruk. Justru karena aku bahagia, aku hampir 26 tahun dan sudah ada dititik ini. Aku bersyukur, dan mengajakmu juga untuk bersyukur. Maafkan aku yang sering tidak sesuai dengan ekspektasimu yang tinggi itu. Maafkan aku jika aku kurang mendengarmu, maafkan aku karena aku tidak suka disalahkan. Maafkan aku telah menggantungkan hidupku sepenuhnya kepadamu. 


With love,
Mama Bita


Komentar

Postingan Populer