Why Resign?

Dari judulnya pasti udah tau kan yg mau saya bahas disini. Semua ibu dan wanita boleh kok baca ini, bukan saya mengkotak kotakkan postingan saya lebih condong dan pro ke salah satu pihak, ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Sungguh, saya bercerita disini hanya untuk self reminder bahwa ini lho, kamu pernah membuat keputusan yg besar dihidupmu. 
Pernah gak sih guys kalian berpikir bahwa pilihan tersulit diusia belasan adalah ketika kita bingung mau pake baju apa di acara promnite SMA. Waktu itu bener2 kayak orang ter rempong sejagad banyumanik deh gue. LOL
Persiapan dan segala hal menuju ke promnite adalah yg paling krusial (waktu itu), yang bahkan sampe sekarang eik gak punya fotonya SATUPUN! Ya , entah karena laptop hilang atau emang gak ada yg moto sih (so sad beud) Hahaha
Dan pilihan tersulit menurutku setelah itu adalah putus atau gak dengan mantan pacar yg beda agama. Sungguh, kegalauan yg amat mendalam saat itu kalo dipikir diusia sekarang kayak "lebay,ya putuslah! Be realistis!" Entah dimana ke-realistis-an saya waktu itu. Pffft *lupakan saja*

Setelah hal-hal yg kita anggap sulit dulu, sekarang jadi remeh banget ketika kamu punya anak dan hidup jauh dari sanak saudara alias merantau. Siapa yg jaga anak? Yakin sama babysitter? Apa mau dititipin aja ke penitipan? Oh, pasang aja chip kamera dibadan anakmu biar bisa pantau. Iya! Semua pikiran itu pernah saya alami. Dan memilih untuk tetap bekerja atau resign menurut saya adalah OH...Sulit sekali. Kenapa sulit? Karena saya tipe wanita pekerja. Passion saya sesungguhnya bukan menjadi ibu rumah tangga. Lebih tepatnya sih, karna gak bisa nganggur dikit dan lebih enak punya penghasilan sendiri alias tidak menggantungkan hidup sepenuhnya ke suami. Dibalik fakta2 pendukung bahwa suami sudah mencukupi secara financial, tidak perlu khawatir akan kekurangan, karena keuangan sepenuhnya saya yg handle. Saya gak mau hitung2an tentang double income yg sangat menggiurkan saat saya bekerja dibanding sekarang suami single income. Semua mau itu single atau double income, itu adalah berkat dari Tuhan. TAPI tetap saja itu pilihan sulit saudara. Itu yg harus saya pikirkan ketika saya akan mulai melamar kerja disini. Justru saya berpikir bagaimana resign dari perusahaan ini tepat ketika saya dinyatakan lolos psikotes dan harus masuk tahap wawancara. Maka melalui proses ngobrol heart to heart dengan suami, ketika wawancara tiba saya memutuskan untuk dijadikan karyawan kontrak. Ya jarang juga lho orang begini ya gak. Orang mah minta cepet2 jadi karyawan tetap, lah saya sebaliknya. Pun saya belum tau apakah saya akan hamil tahun ini. Kalo mau flashback, semua keputusan itu hadir ketika saya YAKIN dan BERSERAH ke Tuhan lho. 

Jadi gini ya ceritanya. 
Saya tau resiko saya jadi karyawan tetap adalah tidak boleh hamil serta melahirkan di 2 tahun pertama kerja. Artinya saya harus menunda kehamilan dong. Ya tunda 1 tahun aja, karena ketika tahun kedua mulai hamil kan udah dapat hak cuti. Demi karir, saya masih akan kembali kerja setelah melahirkan. Menunda kehamilan saja sudah tidak masuk prinsip didalam pernikahan kami.
Muncul pertanyaan selanjutnya, sama siapa nanti anak dirumah? Suami lagi2 sudah menawarkan tenaga pengasuh entah itu dari penyalur atau cari sendiri lewat kerabat. Ini menjelaskan bahwa suami tidak pernah melarang saya untuk bekerja. Tapi tanggung jawab anak adalah sepenuhnya milik kita. Tugas utama ayah adalah BEKERJA. So, menjaga anak adalah opsional. Tugas utama ibu adalah MENDAMPINGI TUMBUH KEMBANG ANAK,so bekerja adalah opsional. Ini prinsip kami berdua. Maka ketika suami menawarkan tenaga pengasuh, artinya saya yg bertanggung jawab atas dia. Saya harus semeleh, percaya sepenuhnya karna sang pengasuh adalah wakil kita. Bisa gak?? Ternyata saya gak bisa.
Simple kok alasan saya, karena saya tidak percaya sama orang lain dalam mendampingi, mengasuh dan merawat anak saya selama 8 jam saja. 
Lebay ya? Kita kan bayar dia untuk dipercaya, atau cari cara dong biar dia bisa dipercaya. Atau paling gak cari pengasuh yg sudah pernah jadi ibu juga, pasti dia gak akan macem2 sama seorang anak. Yaa... Ayem ayem in aja saya terus. Wkwkwk. Tapi nyatanya saya gak bisa, dan TIDAK MAU.
Ini saya pikirkan sebelum saya hamil lho. Menikah Mei 2016, nikmatin holiday+dirumah sebulan. Cari kerja bulan Juni. Eh keterima, prosesnya Juni-Juli. Nothing to lose, galau di bulan2 ini ketika hendak wawancara. Sambil tidak mengurangi usaha berkembang biak dong. LOL. 
Jadi akhirnya saya ambil kontrak 6 bulan. Mulai di Agustus 2016-Februari 2017.
And BLASSSHHH, 16 Agustus adalah hari terakhir saya mens karena September saya tespack dan positif!
Saya gak bohong dong waktu di wawancara bilang belum hamil. Dan gila ya, belum setengah bulan kerja udah hamil aja. Malahan pas banget lagi kontak lagi kan dengan X-Ray. Amazing grace banget deh. Sungguh semua terjadi sesuai dengan harapan saya dan atas kehendak Tuhan.

Inilah, arti dari berpusing pusing dahulu, tenang kemudian. Saya tau pilihan ini terbaik ketika Tuhan menjawab dengan caraNYA. Tapi saya dan suami juga sudah komit, jika saya belum hamil sampai kontrak saya habis, silahkan lanjut kontrak lagi dan kita akan mulai program hamil. 
Karena apa? Perusahaan BUTUH saya, dan saya juga butuh kerja. Gak masalah juga untuk saya jadi karyawan kontrak, salary lebih tinggi tapi gak dapat hak cuti. Ya memang sebanding kan harganya. 

Ya, jadi awalnya alasan saya resign murni karena saya gak sampai hati menitipkan anak saya nantinya ke orang lain. Karena kan saya jauh merantau. Tidak ada saudara yg bisa dipercaya untuk dititipi anak. Bukan karena saya dapat panggilan untuk jadi ibu rumah tangga. Wkwkwk. Ibu macam apa saya ini..
Tapi, ini ada tapi ya. Setelah makhluk Tuhan yang disebut BAYI itu lahir, it totally changed my life! Saya jadi sangat posesif, rasa ingin memiliki yang berlebihan. Karena saya amat sangat cinta terhadapnya! Dan rasa ini timbul ketika pertama kali bayi ini menggantungkan hidupnya kepada saya, ibunya. Yaitu ketika saya menyusui, saya sangat merasakan sesuatu yg ajaib. Yang luar biasa, dan tidak ada sedikitpun rasa penyesalan telah meninggalkan pekerjaan saya sebagai Radiografer. I love my job as radiographer, but i love my baby more than everything!

Perasaan dan komitmen itu masih menetap sampai sekarang, entah sampai kapan.
Saya yakin rezeki saya dan suami akan terus mengalir ketika anak lahir. 

Tapi, mari saya ajak berpikir realistis. Karena kondisi masing2 ibu berbeda. Dari awal saya tidak pernah ingin merasuki dan mendoktrin bahwa ibu harus dirumah, harus yg pertama lihat perkembangan anak, harus ada ketika anak sakit, harus ini harus itu. Tidak! Ikuti kata hatimu, jika menjadi wanita bekerja bisa membuat dirimu lebih confident menjalani hidup, maka bekerjalah. Jika waktumu masih sangat cukup untuk sekedar membuatkan makanan untuk bayimu, maka nikmatilah. Jika lelahmu akan terbayarkan dirumah dengan quality time bersama anakmu di sore atau malam hari, berbahagialah. Dan jika kalian tetap bisa mengontrol kendali atas anakmu, berbanggalah. Kadang kala istri bekerja juga dijadikan alasan untuk mencari kebanggaan didepan suaminya, lebih diakui dan terpandang di relasi bisnis suaminya, mungkin. Jadi ya, mereka selevel. Itu sih disini, dikota keras seperti Jakarta. Kalau di daerah sih kayaknya gak seperti itu ya. Hehehe yang penting kita jadi smart woman aja, biar gak cenggoh pas diajak suami kondangan atau acara kantor. Wkwkwk.

Karena menjadi ibu bekerja itu tidak mudah, terutama ketika kita perang batin dikabari anak sakit di jam kerja. Anak rewel ketika ada dinas luar. Dan saya tidak tau apakah saya mampu menjalani perang batin itu. Belum lagi perang argumen cara mendidik anak versi dulu dan sekarang dengan ibu kita, alias neneknya. Dan jujur saya tidak bisa MENURUTI semuanya. Daripada menyakiti hati salah satu pihak (bisa juga kita sendiri) maka lebih baik saya yg atur semuanya. 
Saat ini, saya tidak pernah hilang semangat untuk berkarir, bahkan ketika ada lowongan cpns tahun ini, saya sempat bercanda dengan suami. "Pah, aku daftar ah" dan suami juga membalas dengan candaan "daftarlah, semoga keterima nanti aku yg dirumah ya sama Arsa"
Ah..hidup kami memang se BAHAGIA ini ~

Komentar

Postingan Populer